Seorang penjaga, yang awalnya curiga dengan kedatangan kelompok besar, segera berubah setelah melihat Karsan. Salah satu penjaga desa mendekat, menatap Karsan dengan mata penuh kekhawatiran.

"Apakah terjadi sesuatu di pertandingan ?" bisik penjaga itu kepada Karsan.

"Ya," jawab Karsan dengan sedih. "Monrest menjebak kami. Untungnya kami bisa selamat berkat pemuda ini. Dia menyelamatkan kami semua."

Penjaga desa yang bernama Glembuk memandang seluruh suku Raksa, mereka semua terlihat lelah dan ketakutan.

Glembuk adalah salah satu orang dari suku Raksa yang ditugaskan untuk menjaga lembah tersebut untuk antisipasi jika terjadi masalah saat pertandingan.

Glembuk memperhatikan Lynx, yang terluka. Kemudian dia segera memerintahkan yang lainnya untuk menyiapkan tempat bagi para pengungsi.

Beberapa saat kemudian, setelah semua orang mendapat tempat untuk beristirahat, para suku Raksa berkumpul bersama Lynx, Rira, Arkha, dan Narendra. Mereka duduk di sekitar api unggun, membahas cerita tentang apa yang terjadi di arena.

"Lynx mampu melawan monster Valgor sendirian," kata Arkha, suaranya penuh kekaguman. "Dan dia menghancurkannya dengan pukulan yang benar-benar sangat luar biasa."

"Pukulan Matahari?" bisik salah warga yang mendengar Lynx menyebutkan nama pukulan tersebut, wajahnya penuh kekaguman.

"Ya," tambah Narendra. "Aku melihatnya sendiri. Meski sudah lama bersamanya, aku baru tahu jika Lynx memiliki kekuatan yang belum pernah aku lihat sebelumnya."

Raka memandangi Lynx dengan mata berkaca-kaca. "Kau bukan manusia biasa. Kau adalah dewa yang dikirim untuk menyelamatkan kami."

Lynx menggeleng pelan, suaranya tenang. "Aku bukan dewa. Aku hanya seseorang yang ingin melindungi mereka yang tidak bisa melindungi diri mereka sendiri. Tapi ini belum selesai. Monrest akan terus mengejar kalian."

Rira menatap Lynx dengan rasa terima kasih yang dalam. "Kami tidak tahu bagaimana kami bisa membalasmu. Kau menyelamatkan kami… dan harapan kami."

Lynx menatap mereka semua, matanya penuh tekad. "Jika kalian ingin bertahan, kita harus bersatu. Tidak ada jalan lain."

Para suku Raksa mengangguk pelan, sementara Lynx memandang ke arah cakrawala, menyadari bahwa pertempuran baru saja dimulai.

Malam mulai berganti pagi, dan cahaya matahari pertama menyelimuti perkampungan kecil itu. Penduduk yang tersisa dari suku Raksa mulai bergerak untuk mengatur tempat tinggal sementara. Namun, suasana tetap tegang, dengan banyak yang berjaga-jaga jika Monrest mengejar mereka.

Lynx di pagi hari sudah duduk diatas batu dengan posisi duduk bersila. Luka-luka yang dialaminya sudah sembuh, secara ajaib tubuhnya mampu meregenerasi sel-sel tubuhnya lebih cepat dari manusia pada umumnya.

"Kekuatan yang kumiliki sungguh luar biasa. Aku sangat beruntung memiliki kekuatan ini." Lynx teringat dengan kata-kata salah satu tokoh superhero di film kesukaannya, KEKUATAN BESAR DATANG DENGAN TANGGUNG JAWAB BESAR. Lynx bertekad akan menggunakan kekuatannya ini untuk menolong penduduk asli dari kekejaman suku Monrest.

"Aku harus memulihkan kondisiku dulu," Lynx segera berkonsentrasi merasakan lingkungan disekitarnya. Dia masih tidak berani untuk menghimpun kekuatan jika tidak terpaksa. Lynx menyadari, dengan merasakan alam di sekitar terutama dari sinar matahari, energi didalam tubuhnya pulih kembali, ibaratkan baterai -- tubuhnya telah full di charger.

"Aku harus bertahap, tidak bisa memaksakan tubuhku menyerap melebihi batas agar kejadian sebelumnya tidak terulang lagi," batinnya sambil mengingat peristiwa di suku Sinto, tubuhnya terasa hampir meledak karena tidak bisa mengendalikan energinya.

Tidak lama, Kanha datang dengan wajah penuh khawatir, membawa semangkuk air.

"Kak Lynx, kau baik-baik saja?" tanya Kanha, menyerahkan mangkuk itu.

Lynx tersenyum tipis dan mengambil air itu. "Aku baik-baik saja, Kanha. Hanya butuh sedikit waktu untuk pulih."

"Baik-baik saja?" Narendra mendekat, duduk di samping Lynx. "Kau waktu itu seperti melawan monster dari neraka, Lynx. Kalau aku yang ada di posisi itu, pasti aku sudah mati."

"Bukan hanya monster dari neraka," potong Arkha, yang berdiri tak jauh dari mereka. "Valgor adalah salah satu pimpinan terbaik Monrest. Dan setiap pimpinan Monrest memiliki kemampuan untuk meningkatkan kekuatan tubuhnya dengan menggunakan kekuatan meteor yang dapat mengubahnya menjadi sesuatu yang sangat mengerikan. Lynx, kau harus memberitahu kami. Apa sebenarnya kekuatanmu?"

Lynx menghela napas panjang, menatap api unggun. "Aku… tidak tahu sepenuhnya. Kekuatan ini kudapatkan secara tidak sengaja setelah aku sampai di pulau ini, tetapi aku masih belum dapat mengendalikannya dengan baik. Tapi aku yakin, itu bukan hal yang bisa kita andalkan tanpa kehati-hatian. Kita butuh lebih dari itu untuk melawan Monrest."

Percakapan mereka terhenti saat Rira mendekat bersama ayahnya, Raka. Pria tua itu, meskipun masih terlihat lemah, membawa seikat dedaunan obat. Ia menyerahkannya kepada Lynx.

"Ini akan membantu memulihkan tenagamu," kata Raka.

Lynx menerima obat itu dengan anggukan kecil. "Terima kasih. Aku harap kau juga merasa lebih baik sekarang."

Raka tersenyum lembut. "Semua ini karena kau. Kalau bukan karena dirimu, aku tidak akan hidup sekarang."

"Jangan terlalu memujinya, Ayah," sela Rira dengan nada sedikit menggoda, meskipun matanya masih memancarkan rasa terima kasih. "Dia memang kuat, tapi kadang terlalu keras kepala."

Kanha tertawa kecil, menambahkan, "Itu benar. Kak Lynx kadang bertingkah seperti dia tidak bisa terluka."

Semua orang tertawa kecil, meskipun ketegangan tetap terasa. Rira lalu mendekat ke arah Lynx untuk memeriksa luka-lukanya. Keterkejutan tercetak jelas di wajahnya. Matanya tidak berkedip memandangi tubuh Lynx.

"Hem... Hem...!" Kanha berdehem saat melihat tingkah Rira. "Kak Rira, sepertinya sangat terpesona dengan Kak Lynx nih," katanya sambil tertawa diikuti oleh tawa Raka dan Narendra.

Rira yang menyadari dirinya ditertawakan langsung merasa malu dan wajahnya memerah, sambil menunjuk Lynx dia berkata," Lynx.. Ini sangat aneh... Lukanya...."

Raka, Narendra dan Kanha yang kebingungan dengan maksud Rira segera memandang arah yang ditunjukkan Rira. Mereka kaget dan tidak percaya melihat kondisi tubuh Lynx.

"Bukankah kamu terluka parah kemarin? Aku jelas-jelas melihatmu terluka saat melawan Valgor. Kenapa sekarang sudah hilang?" Kata Narendra dengan rasa tidak percaya.

Raka yang melihatnya pun merasa tidak percaya. "Tubuhmu sangat luar biasa, bagaimana mungkin ada manusia bisa sembuh secepat itu."

"Kak Lynx memang hebat!" Kata Kanha memuji.

Lynx yang tidak ingin kondisi tubuhnya menjadi perhatian segera menjawab singkat, "Ini termasuk kekuatan yang kumiliki. Tapi sekarang bukan waktunya membahas tentang ini." Katanya mengalihkan pembicaraan.

Raka dan Narendra yang menyadari kebenaran kata-kata Lynx menganggukkan kepala, meski mereka masih penasaran, namun ada hal penting yang harus mereka bahas.

Lynx berbicara dengan nada lebih serius. "Kita harus membicarakan apa yang terjadi di terowongan. Monrest tidak akan berhenti sampai mereka menemukan kita."

Narendra mengangguk. "Mereka kehilangan Valgor. Itu pukulan besar bagi mereka. Tapi aku yakin mereka akan segera mengirim seseorang yang lebih kuat. Kita butuh strategi."

Arkha yang baru datang, mendengar kata-kata Narendra ikut bicara. "Strategi adalah satu hal. Tapi kita juga butuh persatuan. Suku Raksa terpecah selama bertahun-tahun. Kita hanya kelompok kecil. Bagaimana kita bisa melawan Monrest?"

"Dengan bersatu," jawab Lynx dengan tegas. "Itulah alasan aku di sini. Aku ingin menyatukan semua suku di pulau ini untuk melawan Monrest. Uksa, Sinto, Raksa—semua harus berdiri bersama."

Rira tampak ragu. "Aku setuju, tapi bagaimana kita bisa yakin suku Raksa yang lain akan mendengarkan? Mereka bahkan tidak saling percaya."

"Itu sebabnya kita harus mulai dari sini," kata Lynx. Ia memandang ke arah penduduk yang sedang beristirahat di sekitar perkampungan. "Kita tunjukkan bahwa persatuan adalah satu-satunya jalan. Jika kita bisa meyakinkan mereka di sini, kita punya peluang."

Raka, meskipun terlihat rapuh, mengangguk setuju. "Lynx benar. Persatuan adalah kekuatan terbesar kita. Dan kau, Lynx, sudah menunjukkan bahwa kau adalah pemimpin yang layak. Aku mendukungmu."

Narendra menepuk bahu Lynx. "Aku juga. Apapun rencanamu, aku bersamamu."

Rira tersenyum kecil. "Kau sudah menyelamatkan ayahku. Aku tidak punya alasan untuk tidak mendukungmu."

Kanha, dengan semangatnya yang khas, melompat berdiri. "Aku juga ikut! Kau selalu bilang aku harus belajar, Kak Lynx. Jadi, aku akan belajar bagaimana menyelamatkan semua orang!"


